Keesaan Tuhan (filsafat)
Setelah kita mencoba membuktikan keberadaan Tuhan secara rasional
yang penting sekali kita pahami untuk memperkuat iman kita, kini tibalah
saatnya untuk membicarakan tauhid atau keesaan Tuhan. Ajaran tauhid ini
bersumber pada formula syahadat atau persaksian kaum muslimin “ laa ilaaha
illaah ” yang makna harfiahnya “ tidak ada Tuhan selain Allah ”. formula ini
menunjukkan kepercayaan utama umat Islam bahwa Tuhan itu Esa ( Ahad ). Kata “
Esa ” ini harus di maknai sebagai “ tunggal ”, “ satu-satunya ”, atau “ unik ”,
karena ia tidak terbilang., tak ada dua atau tiganya, juga tidak ada taranya.
Dalam perkembangannya, makna tauhid
memiliki banyak penafsiran sesuai dengan aspek yang ditekankannya dari
konsep tersebut. Oleh karena itu, di sini pembicaraan tauhid akan di
bagi ke dalam tiga kategori.
A.Tauhid Uluuhiyyah
Kata “ uluuhiyyah ” dikaitkan dengan kata “ ilaah ”
pada formula syahadat “ laa ilaaha illaah ” dan tentu juga dengan lafal
“Allah ” itu sendiri yang menurut penafsiran tertentu berasal dari kata “al-ilaah
” atau “ the God ”, yakni Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan. Allah
sebagai Tuhan, biasanya dikaitkan dengan keberadaan-Nya sebagai pencipta alam
semesta. Seperti tercermin dari ayat-ayat Al-qur’an yang bertanya pada kaum
Quraisy “ Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ? Jawabnya adalah Allah ”
( Q.S. Al-Luqman : 25 ). Jadi, aspek yang sangat menonjol dari Tauhid
Uluuhiyyah ini adalah aspek penciptaannya.
Selain sebagai pencipta, Tuhan juga di gambarkan sebagai Maha Kuasa
yang artinya berkuasa atas segala sesuatu. Hal ini terbukti dengan dalil
Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 77 yang berbunyi “ Dan milik Allah ( segala )
yang tersembunyi di langit dan bumi. Urusan kejadian kiamat itu, hanya seperti
sekejab mata atau lebih cepat lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu ”. dan seperti dalil Al-Qur’an yang terdapat pada surah Al-Ankabut
ayat 63 yang artinya “ Dan jika kamu bertanya pada mereka ( manusia ),
siapakah yang menurunkan air dari langit lalu dengan air itu di hidupkannya
bumi yang sudah mati, pasti mereka akan menjawab “Allah”. Katakanlah “ segala
puji bagi Allah ”, tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti ”.
Jadi dapat di simpulkan dari dua surah diatas bahwasannya Allah
adalah pencipta yang memiliki kekuasaan luar biasa. Ia berkuasa menciptakan
alam semesta ini, berkuasa mengirim awan dan angin ke segala penjuru, berkuasa
menciptakan sidik jari yang berbeda-beda dan berkuasa melakukan apa saja yang
Ia kehendaki.
Selain sebagai pencipta, Allah juga di gambarkan sebagai Tuan dan
Raja. Ia berhak mengatur kehidupan makhluk-makhluk-Nya baik yang bernyawa
ataupun tidak bernyawa, semua harus tunduk pada perintah-Nya. Dan Ia juga patut
unuk mendapatkan pujian dan pemujaan dari semua makhluk yang di ciptakan-Nya.
Akan tetapi,perlu di ingat bahwasanya tuhan sebagai penguasa
tunggal alam semesta tidaklah bertindak sewenang-wenang,karena ia disifati
dengan sifat yang maha pengasih dan maha penyayang.Dengan segala kekuasaannya yang
begitu besar dan dengan sifat kasih sayangnya yang tulus dsan suci maka
wajarlah jikalau Ia adalah satu-satunya wujud yang patut kita sembah ,kita puja
dan puji serta kita taati dan patuhi.
Untuk kepentingan dan kemudahan pemujaan kepada-Nya tuhan telah
menetapkan tata cara beribadah yang baik yang sepatutnya dilakukan oleh
manusia.Begitu pentingnya pemujaan atau ibadah ini,sehingga ia (ibadah) di
jadikan sebagai tujuan penciptaan manusia dan makhluk lainya .seperti firman
Allah dalam Al-quran surah Az-Zariat ayat 56 yang artinya “aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainnkan agar mereka beribadah kepada-Ku’’
Kata ya’budun makna harfiahnya adalah melakukan pengabdian
kepada tuhan sebagai tyuhan manusia.Dari kata inilah kemudian kita memiliki
konsep “ibadah” yang biasanya diartikan sebagai penyembahan.Meskipun ibadah
adalah tujian penciptaan manusia oleh tuhan,tetapi hendaklah Ia kita maknai
sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang tidak
ternilai harga dan banyaknya.
B.
Tauhid Rububiyyah
Tauhid
Uluhiyyah menekankan keesaaan tuhan pada aspek penciptaan dan
pengabdian-Nya,sedangkan Tauhid Rububiyyah menekankan aspek keesaan tuhan
sebagai pengayom penjaga pemelihara dan pengelola alam ciptaan-Nya.Tuhid
Uluhiyyah menggambarkan kesaan tuhan sebagai penipta(creator),sedangkan tauhid
rububiyyah menggambarkan tuhan sebagai pemelihara (sustainer).
Dalam
pandangan Islam,tuhan adalah pencipta alam tetapi menurut ajaran Deisme
mengatakan bahwa setelah mencipta alam ,tuhan meninggalkan alam dan tidak mau
tahu lagi apa pun yang akan terjadi.tetapi bagi kaum muslimin mereka percaya
bahwa tuhan tidak meninggalkan sendirian,tetapi Ia menjaga dan memelihara
kelestarian ciptaan-Nya itu agar tujuan penciptaannya tercapai.Keserasian
ciptaan tuhan yang ada pada alam sangatnlah luar biasa,alam tidaklah berjalan
serampangan tetapi beroprasi dengan sangat tertib mengikuti gars-garis hukum
dan peraturan yang ketat dan tertentu.
Dari
pengamatan yang teliti tentang ketersusunandan keseragaman yang begitu
fenomenal dan kenyataan bahwa keduanya berlaku secara universal dan tidak
mengenal system yang berbeda atau bertentangan, ini menunjukkan bukti yang
sangat kuat bahwa kedua fenomena yang luar biasa ini mestilah berasal dari satu
pusat perintah yang tidak mengizinkan adanya system tandingan manapun. Dan
adanya pusat perintah tunggal ini, pada gilirannya menunjukkan dengan sangat meyakinkan
akan adanya Pencipta Tunggal dari system tersebut, yang kita sebut Tuhan.
Seandainya berlaku lebih dari satu system perintah, yang bersumber lebih dari
satu pencipta, maka kehancuran alam semesta ini tidak bisa di pungkiri, seperti
yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 22 yang artinya “ Seandainya
pada keduanya ( langit dan bumi ) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya
telah binasa. Maha suci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka
sifatkan ”. Kenyataan hingga saat ini alam semesta masih ada dan berjalan
dengan baik setelah lama berjalan, menunjukkan bahwa memang penciptaan dan
pemeliharaan alam itu Esa, satu atau tunggal. Keesaan Tuhan sebagai pemelihara
alam inilah yang di maksud dengan Tauhid Rubuubiyyah.
C.
Tauhid Wujuudiyyah
Sebagaimana
tersirat dari kata wujuudiyyah, Tauhid
Wujudiyyah merujuk pada keesaan Tuhan dari sudut pandang kewujudan atau
ontologis-Nya , sehingga boleh juga di sebut sebagai Tauhid Ontologis. Tauhid
Wujuudiyyah intinya ingin menunjukkan bahwa Allah lah satu-satunya Wujud yang
betul-betul ada secara mutlak, yang berbeda ddengan wujud-wujud lainnya.
Dalam
Tauhid wujuudiyyah, lafadz “illaah” pada “ laa ilaaha illa Allah ” di tafsirkan
khususnya oleh para sufi menjadi realitas, sehingga makna dari “ laa ilaaha
illa Allah ” akan menjadi ( tidak ada realitas yang sejati kecuali Allah ). Dan
yang di maksud dengan realitas sejati disini adalah “ yang benar-benar ada ”,
sehingga bagi mereka “laa ilaaha illa Allah ” mengandung arti tidak ada
realitas apapun yang benar-benar sejati kecuali Allah. Dalam kamus tasawuf dan
filsafat, ajaran ini di sebut dengan istilah Wahdat Al-Wujud atau
kesatuan wujud.
Dalam
perkembangan selanjutnya, ajaran Wahdat Al-Wujud ini terbagi menjadi dua
cabang. Yang pertama di pelopori oleh Ibn ‘Arabi dari kalangan kaum sufi, dan
yang kedua di pelopori oleh Mulla Shadra dari kalangan filsuf.
1.
Wahdat Al-Wujud versi Ibn ‘Arabi
Istilah
wahdat al-wujud mungkin cocok untuk menggambarkan ajaran Ibn ‘Arabi.
Istilah itu sendiri di kembangkan oleh muridnya sendiri buka oleh ibn ‘Arabi.
Kemungkinan besar kata Wahdat Al-Wujud digunakan oleh Shadr A-Din
Al-Qunawi yang meruoakan murid dan juga anak tiri dari Ibn ‘Arabi, karena
beliaulah yang telah dipandang sebagai tokoh yang menyusun secara sistematis
ajaran-ajaran gurunya tersebut. Adapun inti ajaran Wahdat Al-Wujud Ibn
‘Arabi adalah bahwa sekalipun wujud ini tampak oleh kita banyak dan beragam,
tetapi yang sebenar-benarnya ada hanyalah satu, yaitu Allah SWT. Hanya Dialah
yang sepatutnya dipandang ada bukan yang
lain. Untuk menjelaskan konsep Wahdat Al-Wujud ini, Ibn ‘Arabi
mengumpamakan Tuhan sebagai wajah sedangkan alam yang menyimpan beragam makhluk
hidup sebagai cermin. Beliau berkata “ wajah itu satu, tetapi cerminnya seribu
”.
Menurut
Ibn ‘Arabi, segala sesuatu yang ada di dunia ini tak lain darippada bayangan
wajah tuhan dalam cermin. Dan betapapun nyatanya di depan mata kita, mereka tak
lain daripada bayangan yang terdapat dalam seribu cermin. Dan betapapun jelas
dan banyaknya, bayangan tetaplah bayangan tak pernah bisa menjadi betul-betul
ada.
Pandangan
Ibn ‘Arabi ini, sekalipun mungkin tidak atau belum di formulasikan dengan baik,
sebenarnya telah di praktikkan oleh para
sufi yang lain seperti Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj.
Al-Hallaj
terkenal dalam sejarah tasawuf sebagai orang yang berkata “ Ana Al-Haqq ”, aku
adalah “ Sang Kebenaran ”. kata Al-Haqq ini di kalangan sufi dan
kalangan para filsuf sering di gunakan sebagai kata ganti Allah,yakni Tuhan
Yang Maha Esa. Maka ketika seorang sufi mengatakan “ Ana Al-Haq ”, tak pelak
lagi itu akan berarti “ Aku Tuhan ”.
Dalam
sejarah dunia, satu-satunya orang yang dengan gegabah mengatakan bahwa dirinya
Tuhan adalah Fir’aun. Maka, keberanian Al-Hallaj mengungkapkan kata-kata itu
menyebabkannya dianggap murtad oleh khalayak umum dan ia di jatuhkan hukuman
gantung karena khalayak umum menganggap ucapan tersebut sebagai ekspresi
kesombongan Al-Hallaj.
Akan
tetapi, menurut kalangan sufi terutama Rumi menyatakan bahwasannya ungkapan tersebut
adalah bentuk ketawadukan atau kerendahan diri seorang hamba di hadapan
Tuhannya. Jika Al-Hallaj mengatakan “ Aku Al-Hallaj dan EngkauTuhan ”, maka
bagi para sufi itu akan berarti klaim sang bayangan bahwa ia ada
berhadap-hadapan dengan Tuhan. Tentu saja ini merupakan kesombongan.
Demikianlah, karena hanya Allah saja ayang ada, maka Al-Hallaj tidak mengatakan
“ Aku Al-Hallaj ” atau “ Aku Hamba ” dan “ Engkau Tuhan ”, tetapi sebagai tanda
ketawadukannya , ia justru mengatakan “ Aku adalah Kebenaran ( Tuhan ) ”,
karena sesungguhnya aku ini tiada, dan hanya Engkau sajalah yang ada. Ini
diperjelas oleh Rumi dengan mengatakan “
Bukan Abu Manshur yang berucap ‘Aku adalah Kebenaran’ ( Ana Al-Haqq )
melainkan Allah ”. Inilah penafsiran para sufi terhadap pernyataan Al-Hallaj
yang terkenal dengan “ Ana Al-Haqq ”.
Ketika
di Tanya tentang bukti adanya Tuhan. Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa bukti adanya
Tuhan itu adalah adanya alam ini, sebab alam ini adalaha bayangan wajah Tuhan.
Sebagaimana bayangan wajah kita pertanda kehadiran sang wajah di depan cermin,
demikian juga keberadaan alam, sebagai bayangan Tuhan adalah bukti yang kuat
akan kehadiran-Nya.
Jika
ditanya kenapa kita tidak bisa melihat Tuhan maka jawabannya adalah karena
terlalu kuatnya pancaran cahaya-Nya. Menurut Al-Ghazali, selain bisa terhalang
untuk melihat sesuatu karena gelapnya, ternyata mata kita juga bisa terhalang
melihat sesuatu karena adanya cahaya yang terlalu terang. Dengan demikian,
kenyataan bahwa kita tidak bisa melihat Tuhan, sama seklai tidak menjadi bukti
bahwa Tuhan tiada.
Bisa
kita katakana bahwa karena alam yang di pahami sebagaibbayang-bayang Tuhan
tidak bisa kita npandang sebagai betul-betul ada sedangka Tuhan adalah
satu-satunya yang sebenarnya ada, maka hanya Tuhan sajalah yang harus kita
pandang ada dalam arti kata yang sebenarnya. Inilah inti ajaran Wahdat
Al-Wujud Ibn ‘Arabi.
2.
Wahdat Al-Wujud versi Mulla Shadra
Meskipun
menggunakan kata yang sama, tetapi Mulla Shadra memiliki penafsiran yang
berbeda terhadap istilah tersebut dengan menggunakan dasar filosofis yang
berbeda dengan Ibn ‘Arabi. Penekanannya pada keutamaan wujud menyebabkan
prinsip filosofis Mulla Shadra disebut Ishaalat Al-Wujud. Prinsip ini
menyatakan bahwa wujud adalah yang paling prinsipil bukan esensi. Ia mengatakan
bahwa Tuhan hanya punya wujud saja bukan esensi. Karena kalau tuhan nmemiliki
esensi, maka wujudnya akan tergantung padanya, dan itu tidak mungkin karena
wujud adalah satu-satunya realitas sejati dan dasar bagi segala yang ada.
Menurut Mulla
Shadra, wujud hnyalah satu, dari wujud yang sederhana seperti debuhinga yang
paling tinggi, dari sudut kewujudan yakni Tuhan sendiri hanyalah satu. Perbedaan
yang kita lihat di ala mini tidaklah dari sudut kewujudannya, tetapi berbeda
hanyalah dari sudut gradasi atau tingkatannya, sebuah ajaran yang biasa di
sebut sebagai Tasykiik Al-Wujud, yang artinya satu tapi pada waktu yang
sama ia juga banyak, inilah makna yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman sebagai “ Ambiguitas Sistematik ” atau dua
makna yang sistematik. Di sini dinyatakan bahwa di samping memiliki dan
bertindak sebagai prinsip keesaan, pada waktu yang sama ia juga memiliki dan
bertindak sebagai prinsip kebinekaan. Oleh karena itu, wujud bisa di sebut
satu, tetapi pada waktu bersamaan ia juga banyak dan beraneka. Ia satu ketika
di lihat dari sudut kewujudannya, sedangkan ia banyak jika di lihat dari dari
sudut esensinya. Jadi, esensilah ( hakikat ) yang menjadikan wujud banyak dan
beraneka ragam. Namun karena menurut prinsip Ishalat Al-Wujud ( teori
Mulla Shadra ), esensi itu tidak betul-betul ada di dalam realitas, dan hanya
ada dalam pikiran manusia saja, makna yang betul ada sebenarnya hanyalah wujud
yang satu saja, karena Mulla Shadra memandangnya secara relative.
Comments
Post a Comment