Hakikat Alam (Filsafat)
A.
Pengertian Alam
Dalam Islam bisa dipahami sebagai “segala
sesuatu selain Tuhan’’. Itu sebabnya Al-qur’an memakai istilah “Al-Alamin’’ yaitu
seluruh alam, ketika merujuk kepada Tuhan sebagai tuhan seluruh alam (Rabb
al-alamin). Alam imajinal (Al-‘alam al-mitsal), alam rohani (‘alam
al-jabaruf), juga alam (dunia) mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, jin
dan malaikat, bahkan dunia setelah kematian, alam kubur dan alam akhirat. Karena
kekuasaan-Nya yang mutlak, maka jika Allah hendak menciptakan langit dan bumi, maka
Dia berkata kepada keduanya: “Jadilah kalian, baik dengan suka atau dengan
terpaksa’’. Oleh karena itu, seluruh isi alam semesta ini mentaati Allah
‘’secara otomatis’’ (kecuali manusia yang dapat mentaati ataupun mengingkari. Alam
sedemikian terjalin erat dan bekerja dengan regularitas yang sedemikian rupa
sehingga ia merupakan keajaiban Allah.
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا أَنَّ
السَّمَوَاتِ وَ الأَرْضَ كاَنَتَاَ رَتْقًا فَفَقْنَا هُمَا وَ جَعَلْنَا مِنَ
الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
Artinya:
‘’Apakah orang-orang kafir tidak
mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang
padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan
dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka
mengapa mereka tidak juga beriman?’’ ( Al-anbiya/21:30 )
B.
Pengertian Struktur Alam
Alam tersusun dengan baik, mengikuti sistem atau struktur tertentu.
Itulah sebabnya alam disebut oleh para fisuf dan sainstis sebagai kosmos. Kata ‘’kosmos’’
itu sendiri bermakna tersusun,tertata atau terstuktur. Sedangkan lawannya adalah “chaos’’, yakni
acak, tak beraturan, atau berantakan. Oleh sains modern, alam digambarkan
sebagai tersusun dalam sistem tertentu. Misalnya, bumi kita ini termasuk
kedalam sebuah sistem yang lebih besar yaitu ’’Tata Surya’’ (Solar System).
Tata surya tersusun daripada Matahari sebagai pusatnya, dikelilingi oleh
planet-planet da keseluruhan anggota tata surya ini membentuk sebuah spot yang
kecil saja dalam sistem yang jauh lebih besar, yakni galaksi.
Bagi mereka alam semesta yang telah
digambarkan sejauh ini oleh sains modern, hanya merupakan satu tataran atau
lapis alam saja, yaitu alam fisik, yang mereka sebut alam al-muluk,
yakni alamnya para raja, alam dunia ini. Dan ada juga alam yang lebih luas lagi
yang oleh para sufi dan juga filsuf muslim tertentu disebut alam imajinal (alam
al-mitsal) yang berada pada alam dunia, dibawahnya dan alam rohani yang
mereka sebut alam al-jabarut diatasnya. Sebenarnya, di atas alam jabarut
ini masih terdapat lagi alam-alam yang lebih tinggi, yakni’’Lahut’’
atau alam ilahi, dan’’Hahut’’, yakni
alam dari esensi Tuhan. Pusatnya ia sebut alam Thabi’at, Kursi ‘Arasy, Lauh
Mahfudz, Qalam, Sifat dan Dzat alam yang para sufi dan filsuf pahami jauh meampaui
batas-batas alam fisik sebagaimana diberikan oleh sains dan kosmologi modern. Adapun
ciri alam fisik(‘Alam al-Mulk), adalah bahwa ia dapat kita amati
dalam bentuk benda-benda yang kasat mata, sehingga dapat disebut alam
empiris. Alam ini memiliki bentuk fisik yang berdimensi, dan bisa dirasakan
keberadaannya dengan aat-alat indra yang telah diciptakan Tuhan untuk manusia. Ciri
alam imajinal (‘Alam al-Mitsal) yang mirip dengan bentuk
fisik tetapi sebenarnya mereka tidak memiliki fisikalitas, sebagaimana yang
dimiliki dunia fisik, ini hampir serupa
dengan dunia mimpi yang sering kita alami, dimana kita bisa melihat, dengan
mata batin, bentuk-bentuk yang mirip dengan bentuk-bentuk fisik, tetapi
sebenarnya mereka bukan fisik.
Menurut Henry Corbin, di Dunia
Imajinal (Mundo Imagianis), apa yang bersifat material bisa
dispiritualkan atau diubah menjadi spiritual,dan sebaliknya yang spiritual bisa
mengambil bentuk fisikal. Sedangkan Alam Spiritual (Alam al-Jabarut), adalah
alam yang abstrak dimana kita tidak bisa mempersepsi bentuk fisik apapun, baik
yang benar-benar bersifat fisik maupun imajinal. Oleh sebab itu,alam ini
beserta makhluk yang ada di dalamnya, disebut substansi-subtansi abstrak(al-Jawahir
al-Mujarradah).
C.Keabadian dan Kebaruan Alam
Soal’’Keabadian alam’’telah menjadi objek perdebatan yang
sengit antara para teolog (Mutakallimun) dengan para fisuf (falasifah).
Sebagian mutakalimun menjawab alam dicipta “dari tiada” berarti tiada
itu ada mendahului penciptaan, dan adapula yang mengatakan ia adalah “sesuatu”
seperti keyakinan kaum mu’tazilah atau “bukan sesuatu” seperti pendirian
kaum ‘asyi ‘aryah. Maksud mereka adalah “sesutu yang bersifat potensial, yang
siap ditampilkan apabila dipanggil”. Para fisuf Muslim,khususnya al-Farabi dan
Ibn Sina percaya bahwa yang dimaksud dengan “ tiada” adalah wujud potensial, yang
siap untuk diaktualkan atau diwujudkan ketika sang pencipta menginginkannya.
Ketika para filsuf berbicara tentang
alam yang abadi,yang mereka maksud adalah’’alam dalam bentuk potensialnya’’.
Sebagai wujud yang dimiliki potensi untuk diaktualkan,alam dipandang abadi. Ia
tidak mungkin muncul dari wujud yang mustahil,karena wujud yang mustahil tidak
akan berubah menjadi mungkin. Biasanya, ketika kita bicara materi maka pikiran
kita tertuju pada benda-benda fisik seperti debu atau batu, atau benda lainnya
yang bersifat fisik, padahal, yang dimaksud oleh Aristotoles dengan materi bukanlah
benda-benda fisik sepertiyang kita bayangkan, melainkan sebagai potensi yang
baru akan mewujud ketika ditambahkan padanya bentuk.
Lalu beralih pada konsep “kebaharuan
alam”, yang dimaksud oleh para filsuf muslim itu adalah alam dalam dalam
bentuk potensi. Namun, ketika bicara tentang alam dalam bentuk aktualnya
seperti yang kita saksikan sekarang ini bahwa alam fisik ini adalah baru dalm
arti dicipta dalam waktu. Ia tidak boleh dipandang abadi karena seperti telah
disinggung sebelumnya, unsur atau subtansi fisik, mestilah tunduk pada hukum
kejadian dan kehancuran, jadi tidak mungkin abadi, ada dua filsuf yang
mengemukaan kebaharuan alam, yaitu Al-Kindi dan Ihwan Al-Shofa. Al-Kindi
adalah seorang filsuf yang mencoba menunjukkan kebaruan alam, baik dari sudut
materi, gerak maupun waktu. Al-Kindi mengatakan bahwa betapapun luasnya alam
raya ini, tetap saja ia mustahil tak terbatas. Karena kalau ia tak terbatas ia
tidak mungkin akan menjadi terbatas, karena yang tak terbatas tidak mungkin
dilampui oleh yang terbatas. Yang kedua adalah Ihwan Al-Shofa, kelompok
pemikir abadke 10 masehi ini menamakan alam sebagai “manusia besar” mengapa?
Karena sebagaimana manusia mempunyai jiwa yang mengalir keseluruh bagian
tubuhnya, demikian juga alam. Ia memiliki jiwa yang disebut jiwa universal,
yang mengalir keselur bagian-bagiannya dari mulai langit hingga pusat Bumi.
Comments
Post a Comment